Aku yang telah hidup di antara bengis hari
Bernafas diantara orang-orang penuh obsesi
Membuka mata di tengah gedung-gedung tinggi
Mencium aroma nista pertiwi
Hey apa kabar kalian tikus-tikus berdasi
Bagaimana dengan uang kami yang kau konsumsi
Bagaimana dengan jalan ini yang selalu berlubang lebar
Bagaimana dengan sekolah kami yang tak kunjung kau bangun
Kau hidup di gedung berlapis emas
Kau duduk diantara hidangan mewah
Dan kami,
Kami yang memiliki hak
Kami yang memiliki andil atas kursi mu
Kami yang begitu memeprcayaimu
Kami yang begitu berharap pada mu
Lihat !
Kami bahkan tak punya tempat untuk sekedar rehat
Ini tanah kami, ini rumah kami
Tapi dengan sadismu kau membiarkan kami menjadi jelata
Kau membirkan kami mengemis di negeri sendiri
Saat kami meminta uluran tangan
Kau bilang kami yang tidak punya keinginan
Kau umumkan kami yang bermalas-malasan
Kau perlihatkan kami yang tidak ingin pendidikan
Kau ceritakan kami yang tidak ingin berjuang
Bagaimana bisa !!!!
Kaki kami kau pincangkan
Mulut kami kau bungkam
Suara kami kau bisukan
Keringat kami kau sembunyikan
Tuan, tidak bisakah kami mendapat keadilan
Pak, tidak bisakah kami mendapat hak ketenangan
Ananda, bisa cukupkah sampai disini saja
Memang betul, negeri ini tidak kekurangan orang pintar
Tapi negeri ini kekurangan orang jujur
Indonesia, kami menderita

Comments
Post a Comment