WAJAHMU PENUH DI KEPALA BATU INI
Gusar dan usah ku rasakan
Ketika harus menyiapkan tenaga besar
Iya, tenaga besar
Hanya untuk dapat memejamkan mata
Ku penuhi otaku dengan semua imajinasi tentangmu
Ku hadirkan wajahmu di kepala batu ini
Ku coba hadirkan senyum manismu
Ku hadirkan pula hangat peluk lirihmu
Kukatakan... tidurlah untuk diriku
Terlelap dalam dekap bayang bahu besar itu
Sementara sang sedih ku rasakan pergi
Tersisalah mata sembab dengan air mata yang mengering
Pagi,
Seharusnya jadi hal yang aku tunggu-tunggu
Ternyata ini adalah awal dari rasa yang lebih muram
Aku harus terbangun di antara embun tanpamu
Harus tetap membuka mata tanpamu yang tidak lagi perduli pada pagiku
Suara burung itu tetap bernaung
Sinar mentari tetap masuk pada celah pintu
Rumput-rumput itu tetap bergoyang indah
Lalu, mengapa kamu tetap memilih untuk pergi ?
Bela Lestari

Comments
Post a Comment